Wednesday, July 26, 2017

Kisah Zulaibib dan Bidadari


Kisah Zulaibib dan Bidadari

Kumpulan Cerita Islam (KCI) : Kisah Zulaibib dan Bidadari

Di sudut kota Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulaibib. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong melarat. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

illustrasi
Zulaibib kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:”Maukah engkau saya nikahkan dengan putri dari kalangan Anshor? “
“saya belum berani ya Rasul, putri sahabat itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.”
Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Zulaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Zulaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Zulaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, dan begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Rasulullah menarik lengan Zulaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshor. “Aku ingin menikahkan putri kalian.” kata Rasulullah pada tuan rumahnya.
“Betapa indahnya dan betapa barakahnya rumah kita”, begitu tuan rumah menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabilah calon menantunya. ” Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyinari di rumah kami.”
” Bukan untukku, tetapi ku pinang putrimu untuk Zulaibib” jawab Rasulullah.
“Zulaibib?”, sahut pemimpin anshor tak percaya.
“Ya. Untuk Zulaibib.” Rasulullah menyakinkan.
” Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas panjang. “Saya harus meminta pertimbangan istri dan putri saya tentang hal ini”
“wahai suamiku?’, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Zulaibib berwajah jelek, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Zulaibib”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Dan akhirnya sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”
“Rasulullah wahai putriku” jawab mereka.
“Ayah dan bunda, jika memang ia didatangkan karena permintaan Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku ikhlas menjadi istrinya. Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”.
Putri yang shalehah itu lalu membaca sebait ayat: 

“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah mereka telah sesat, sesat yang nyata” 
(QS. Al Ahzab : 36)

Mendengar kata2 gadis itu Rasulullah dengan tertunduk berdoa untuk gadis shalihah tersebut, ” Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya susah dan bermasalah..” (Doa yang indah.)
Akhirnya peminpin anshor dan istrinya menyetujui. pagi itu juga pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Adinda di wajahmu terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu? dan apakah kita termasuk suatu tanda pasangan surga”
“maksud kakanda..??” istrinya balik bertanya.
” Bukankah syukur dan sabar adalah ciri2 yg dirindu suga, aku selalu bersyukur telah mendapatkan istri seperti adinda, dan adinda selalu bersabar telah mendapatkan suami spt aku”.
Dengan tersipu malu istrinya menyela ” engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam ini yang dinantikan para pengantin.”
Zulaibib tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu berkali-kali seakan kejadian ini hanyalah mimpi belaka. Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.
Zulaibib masuk kembali masuk rumah dan menemui istrinya. “Duhai istriku yang senyumnya mempesona hingga ke relung jiwa, begitu besar cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku padamu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. sekiranya Allah mengetahui semua tujuan jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, ” Pergilah wahai suamiku, betapa besar pula kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”
***
Zulaibib lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…tak disangka sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulaibib terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang bertebangan di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tersenggal, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi, belum sempat menikamati malam pertamanya. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***
Senja datang..perang sudah usai
Angin mendesah, sepi…
Gemerlap alunan doa mengiris hati..
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Ketika perang telah usai, Rasulallah Saw bertanya kepada para sahabat: “Siapa diantara sahabat kalian yang sekarang tidak keliatan dan mungkin menjadi syahid?” Para sahabat pun menyebutkan beberapa nama, tetapi tidak menyebut nama Zulaibib karena dia belum banyak dikenal.” Sepertinya kalian kehilangan seseorang?” Tanya Rasulullah.
“Tidak Ya Rasulullah!”, jawab para sahabat .
“Sepertinya kalian kehilangan seseorang?”, Rasul bertanya lagi. Kali ini lebih tegas lagii.
“Tidak Ya Rasulullah!”. sebagian menjawab dengan terbata-bata dan tak seyakin tadi. Beberapa sahabat menengok ke kiri dan ke kanan.
Rasulullah menghela nafasnya. “Sepertinya aku justru kehilangan Zulaibiib, marilah kita bersama mencarinya!”
Maka para sahabat sadar dan mereka pun mencarinya, ternyata mereka menjumpainya dalam keadaan telah gugur. sedang di sebelahnya terdapat tujuh mayat musuh yang berhasil di bunuhnya sebelum dia gugur semoga Allah SWT melimpahkan ridho-NYA kepada Zulaibib
Rasulullah mengusap tanah dari wajah dan mencium serta menangis dan bersbda:
  “engkau adalah bagian dariku dan aku bagian darimu”.
( HR.muslim dan Ahmad)”
Rasulullah tertunduk di samping jasad Zulaibib. Para sahabat terdiam membisu. Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti kmbali menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau. Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
” Wahai Rasulullah, mengapa engkau menanigis ketika melihat jasad Zulaibib?
Jawab Rasulullah “Aku menangis karena mengingat Zulaibib. Oo.. Zulaibib, pagi tadi engkau datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam pertama, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
“Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulaibib,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulaibib, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulaibib. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya…”
*** Tapi jauh sekali dari tempat itu, di atas tanah yang berbeda dan di dalam udara yang tak sama, sebuah lampu di teras menyala. Sebuah halaman kamar seorang wanita duduk ditemani bunga-bunga di sekelilingnya. Dengan menyandarkan punggung di tiang beranda, istri Zulaibib menanti sang suami yang tak kunjung datang. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta Segala Maha Rasa.
Malam menjelang… Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata. Lambat-laun ia seperti melihat Zulaibib datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini bila aku menyebut namamu akan mengguman cemburu padamu…dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku..”.
Istri Zulaibib, terdiam. Tak lama setelah itu, matanya mulai berkaca-kaca dan airmata kasih yang teramat dalam itupun segeralah tumpah. Ada sesuatu yang mengingang disana.. Sepertinya tak ingin lepas ia dari mengingat acara pernikahan tadi pagi.. Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir.. Ia menggerakkan bibirnya..
Tak lama, mengalirlah sebuah doa yang terdengar sayup dan lembut. Suara yang teramat pilu menembus, menusuk hingga ke dinding hati.
“Suamiku doaku selalu menyertaimu, aku sangat mencintaimu… dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita.. aku ikhlas….”
*******Selamat Zulaibib, selamat bagi orang2 yang shiddiq, selamat bagi orang-orang yang ikhlas dan selamat bagi orang-orang yang menempuh jalan Allah.

Thursday, July 13, 2017

Embracing Islam

Embracing Islam

When Muhammad SAW spread Islam openly in Mecca, Omar reacted very antipatically to him, some notes say that Muslims at that time acknowledged that Umar was their most counted opponent, this is because Umar who already has a very good reputation as a war strategist And a very tough warrior in every battle he passed. Umar is also noted as the one who most and most often uses his power to torture Muhammad's followers.
At the height of his hatred of the teachings of Muhammad SAW, Umar decided to try to kill Muhammad SAW, but on his way he met with one of the followers of Muhammad SAW named Nu'aim bin Abdullah who later gave him the news that Umar's sister had embraced Islam, the teachings brought by Muhammad SAW who wanted to kill him then. Because of the news, Umar was shocked and went home with the intention of punishing his brother, narrated that Umar met his sister reading the Qur'an (Thoha letter verses 1-8), getting angry about it and hitting his sister. When he saw his sister bleed by his blow he became compassionate, and then asked that the reading could be seen, narrated Umar became shaken by what he read, some time after the incident Umar declared embracing Islam, of course the thing that has always membelanyani make Almost the whole of Mecca was shocked that one of the most notorious and most violent men in torturing the followers of Muhammad SAW then embraced the very hatefulness of his teachings, consequently Umar was isolated from the association of Mecca and he became less or less respected by the Quraish high officials who have been known Always defend it.
[Edit] Life in Medina
In the year 622 AD, Umar joined Muhammad and other followers of migration (to Yathrib (now Medina), he was also involved in the battle of Badr, Uhud, Khaybar and assault on Syria In 625 his daughter (Hafsah) married Prophet Mohammed was regarded as the most respected by the Muslims at that time because in addition to his reputation which was famous since pre-Islamic times, also because he was known as the front man who always defended Muhammad and the teachings of Islam on every occasion even without him Hesitantly opposed his old friends with whom he tortured his followers of Muhammad.
[Edit] The death of Muhammad
At the time of the news of Muhammad's death on 8 June 632 AD (12 Rabiul Awal, 10 Hijri) in Medina to the Muslims as a whole, Umar was reported to be one of the most shocked of the event, he hampered anyone to bathe or prepare his body for the funeral. As a result of the shock he received, Umar insisted that Muhammad was not dead but was just being unconscious, and would return at any moment. [1]
Abu Bakr who heard the news rushed back from Medina, he met Umar was holding another Muslim and then said (! Cquote!) "Brethren! Whoever wants to worship Muhammad, Muhammad is dead, but whoever wants to worship Allah, Never die. "! |)
Abu Bakr reminded the shaken Muslims, including Umar at the time, that Muhammad, like them, was an ordinary man, Abu Bakr later recited verses from the Qur'an [2] and tried to remind them of the doctrine that Muhammad taught the mortality of created beings. After that event Umar surrendered and let the burial preparations take place. dear Allah
[Edit] Persons era of Abu Bakr Caliphate
In the time of Abu Bakr as khalifah, Umar was one of his chief advisers. After the death of Abu Bakr in 634, Umar was appointed to replace Abu Bakr as the second Caliph in Islamic history.
[Edit] Being a khalifah
During the reign of Umar, the rule of Islam grew very rapidly. Islam took over Mesopotamia and parts of Persia from the hands of the Sassanid dynasty of Persia (ending the sassanid empire) and took over Egypt, Palestine, Syria, North Africa and Armenia from the Roman Empire (Byzantium). At that time there were two great power states of Persia and Rome. But both have been conquered by the Islamic Caliphate under the leadership of Umar.
History records many of the great battles that were the beginning of this conquest. At the battle of Yarmuk, which occurred near Damascus in 636, 20,000 Islamic troops defeated the 70,000th Roman troops and ended Roman rule in southern Asia Minor. Other smaller Islamic armies won victory over a larger Persian army at the battle of Qadisiyyah (th 636), near the flower

Memeluk Islam

Memeluk Islam
Foto CERITA ISLAMIAH.
Ketika Muhammad SAW menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya, beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Muhammad SAW.
Pada puncak kebenciannya terhadap ajaran Muhammad SAW, Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Muhammad SAW, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Muhammad SAW bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW yang ingin dibunuhnya saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an (surat Thoha ayat 1-8), ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya. Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal yang selama ini selalu membelanyani membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam menyiksa para pengikut Muhammad SAW kemudian memeluk ajaran yang sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.
[sunting]Kehidupan di Madinah
Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Muhammad dan pemeluk Islam lain berhijrah (migrasi) (ke Yatsrib (sekarang Madinah) . Ia juga terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Muhammad. Ia dianggap sebagai seorang yang paling disegani oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang memang terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Muhammad dan ajaran Islam pada setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama mereka ia ikut menyiksa para pengikutnya Muhammad.
[sunting]Kematian Muhammad
Pada saat kabar kematian Muhammad pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awal, 10 Hijriah) di Madinah sampai kepada umat Muslim secara keseluruhan, Umar dikabarkan sebagai salah seorang yang paling terguncang atas peristiwa itu, ia menghambat siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Akibat syok yang ia terima, Umar berkeras bahwa Muhammad tidaklah wafat melainkan hanya sedang tidak sadarkan diri, dan akan kembali sewaktu-waktu. [1]
Abu Bakar yang mendengar kabar bergegas kembali dari Madinah, Ia menjumpai Umar sedang menahan Muslim yang lain dan lantas mengatakan (|cquote! :"Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati."! |)
Abu Bakar mengingatkan kepada para pemeluk Islam yang sedang terguncang, termasuk Umar saat itu, bahwa Muhammad, seperti halnya mereka, adalah seorang manusia biasa, Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an [2] dan mencoba untuk mengingatkan mereka kembali kepada ajaran yang diajarkan Muhammad yaitu kefanaan makhluk yang diciptakan. Setelah peristiwa itu Umar menyerah dan membiarkan persiapan penguburan dilaksanakan. ya Allah
[sunting]Masa kekhalifahan Abu Bakar
Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.
[sunting]Menjadi khalifah
Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.
Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.
Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat.
Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.
Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.
Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.
[sunting]Kematian
Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah kematiannya jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.
Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu[rujukan?]:
Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

11 Events in Islamic History Occurring in the Month of Ramadan

11 Events in Islamic History Occurring in the Month of Ramadan

The month of Ramadan is not merely a holy month for Muslims. In the history of Islam, a number of major events that are very decisive and meaningful for Muslims occur this month. At least, there are 11 important events that occurred in Islamic history, either classical or modern. What are the events?
Here are 11 Historical Islamic Events in the Month of Ramadan.
1. The Liberation of Mecca (Fathul Makkah)
What is Fathul Makkah? The event of Fathul Makkah is an event in which the Prophet Muhammad and his Companions succeeded in mastering Mecca and destroying the idols around him. So the Ka'bah is holy again. This event stems from the Hudaybiya treaty of 628 AD This is an agreement between the Muslims and the Quraysh. This agreement occurs when a group led directly by the Prophet Muhammad was to perform the pilgrimage in the House. However, the Quraysh see it as a threat. If the people of Medina, who in fact are the rivals of the infidels of Quraish, came to Makkah, then what would people say? For this reason, the leaders of Quraish with all efforts to formulate a strategy, namely binding the Muslims in an agreement so as not to be free to visit Makkah. And there was Hudaibiyah agreement. The fear of the infidels of Quraish is quite natural, because after the Prophet and several hundred friends emigrated from Makkah to Yathrib (Medina), between the Muslims and the Quraysh almost always the inevitable warfare. In a 20-day siege by 10,000 Quraish troops against Madinah in 627 AD, the Holy Prophet and the 3,000 Muslims succeeded in defending Medina.
The contents of Hudaibiyah agreement include:
First, a ten-year truce
Second, Muslims are allowed to enter Mecca the following year, staying there for three days with only a weapon.
Third, work together in a case that brings to the good.
Fourth, the Quraysh who fled to Islam should be returned to Makkah.
Fifth, the Muslims who fled to Makkah were not returned to Medina,
Sixth, both sides may establish cooperation with other tribes but should not be helpful in terms of warfare.
Finally in 630 precisely on the 10th of Ramadan 8 H, the Prophet Muhammad and 10,000 troops moved from Medina to Makkah, and then controlled Mecca as a whole without any bloodshed, as well as destroying the idols placed in and around the Kaaba.
2. The Moon Descended the Qur'an
Allah Subhanahu wa Ta'ala says in the Qur'an: "(The appointed day is a) The month of Ramadan, the month in which the Qur'an begins to guide us as a guide for man and the explanations of that clue and the distinction (between the right and the one Vanity) ... "(Surat al-Baqarah: 185)
Imam Ibn Kathir explains: "Allah SWT praises Ramadan among other months, for He has chosen him among all the months as the month upon which the great Qur'an is revealed." As Allah specified Ramadan as the month of the revealed Qur'an, it has been mentioned by Hadith that in the month of Ramadan also other books of Allah revealed to the Prophets before the Prophet Muhammad.
Imam Ahmad ibn Hanbal in his Musnad narrated: "The sheets (shuhuf) of Prophet Ibrahim were revealed at the beginning of the night of Ramadan and the Torah was revealed on the sixth of Ramadan, and the Gospel was revealed on the thirteenth of Ramadan, while the Qur'an was revealed on the twenty-fourth of Ramadan (Ahmad in Musnad, and expressed hasan by Shaykh Al-Albani in As-Silsilah Ash-Shahihah, 1575)
3. The War of Badr
On Friday 2nd Ramadhan the 2nd year H happened the first war in Islam known as Badr War. Badar is the name of a place in a valley that lies between Medina and Makkah. The Islamic army controls the strategic location by controlling the water resources in the area.
This war involves 313 members of the Islamic army facing up to 1,000 fully armed Makkah polytheists. In this war, the Islamic army wins the battle with 70 polytheists killed, 70 more captive. The rest ran away.
This war was a remarkable one when the less-numbered, weak army from the point of completeness and fasting in the month of Ramadan won the battle of Badr War. This proves that fasting is not the cause of Muslims being weak and lazy to the contrary to try to achieve the pleasure of Allah. The man who strives for the pleasure of Allah must reach the promised victory.
"Surely God has helped you in the battle of Badr, when ye are (the) of the weak, therefore fear Allah, that ye may be grateful for Him" ​​(Surah Al-Imran: 123)
4

Guru di Baghdad Mintakan Ampun Sang Murid di Ar Rahbah

Guru di Baghdad Mintakan Ampun Sang Murid di Ar Rahbah

Terkait

Saat itu tanpa disengaja Abu Amru memandang seorang wanita yang cantik, hingga akhirnya ia pun tersadar dan segera beristighfar.
Ketika Abu Amru pulang ke rumahnya, berkatalah budak wanita tua miliknya,”Wahai tuan, kenapa aku menyaksikan wajah anda berwarna hitam?” Abu Amru pun segera melihat wajahnya di cermin, ternyata benar apa yang dikatakan budaknya tersebut.
Abu Amru pun akhirnya mengingat-ingat sebabnya, kenapa wajahnya berubah, hingga akhirnya ia ingat bahwa ia telah memandang wajah seorang wanita asing. Akhirnya Abu Amru pun beristighfar dan memilih menyendiri selama empat puluh hari.
Di masa ia menyendiri, hatinya pun menyeru,”Datanglah ke gurumu Al Junaid!” Akhirnya Abu Amru pun melakukan perjalanan untuk datang kepada Al Junaid yang berada di Baghdad.
Ketika ia sampai di rumah Al Junaid, Abu Amru pun mengetuk pintunya. Dari dalam Al Junadi pun menyahut,”Masuklah wahai Abu Amru! Engkau melakukan dosa di  Ar Rahbah, dan kami memintakan ampunan untukmu di Baghdad!” (Tarikh Baghdad, 7/247)

Kisah Zulaibib dan Bidadari

Kisah Zulaibib dan Bidadari Kumpulan Cerita Islam (KCI)  :  Kisah  Zulaibib dan Bidadari Di sudut kota Madinah, tingga...